Pages

Rabu, 03 Juni 2015

SEMANIS YANG DIRINDUKAN



Pulang kampung adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu bagi setiap perantau, tak terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya merasa rindu akan kampung halaman. Suasananya yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota besar, udaranya yang masih terbilang segar walaupun siang agak panas, dan tentu saja berlimpah dengan hasil pertanian terutama buah-buahan. Musim buah merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu apalagi saat saya pulang kampung kali ini bertepatan dengan musim buah-buahan. Durian, Manggis, Langsat, dan Rambutan berbuah serentak dan lumayan berbuah banyak tahun ini. Pohon Langsat di samping rumah sudah menguning tapi belum saatnya dipetik. Manggis masih banyak persediaan di rumah tante… hehe.. sayang pohon manggis di samping rumah sudah ditebang. Dahan dan daunnya yang berdekatan dengan atap rumah membuat atap rumah cepat berkarat dan bocor.

Saat saya datang pohon rambutan merah di halaman rumah buahnya sudah habis tinggal pohon rambutan kuning yang berbuah. 


Salah satu pohon rambutan di halaman rumah (model dalam foto: adek & sepupu)





Rambutan kuning, tampilan boleh kecil tapi rasanya maniiisss…. Kayak saya… hhehehe

Dua hari berada di rumah ada ajakan dari tante makan Durian dan Manggis di rumahnya. Tawaran gratis tak boleh dilewatkan, tentu saja saya langsung mengiyakan. Makan durian dan manggis di rumah tante tak ada fotonya jadi diceritakan saja. Ternyata saya hanya mampu menghabiskan dua buah durian.


Selasa, 03 Maret 2015

Monster

Kau selalu mengangap dirimu adalah jelmaan dari monster. Kau selalu merasa dan melihat dirimu buruk tak ada baiknya. Kau yang selalu terlihat sedih ketika ia melihatmu. Yah, lewat mata itu ia merasa kau menyimpan sesuatu yang sangat besar dalam dirimu. Katamu padanya, "kau adalah orang baik, kau berhak dapatkan yang baik pula". Ia hanya tersenyum, terdiam menatap mata coklatmu.

Sabtu, 14 Februari 2015

REMEMBERED ABOUT...

Tik...tik...tik...
Suara air hujan yang jatuh perlahan mulai deras mengguyur segala apa yang ada di permukaan bumi. Ah, hujan yang terus menerus seringnya membuat ku malas melakukan apapun selama seharian. Terkadang hanya menatap hujan dalam diam. Banyak hal yang ingin ku tanyakan pada hujan tentangnya tapi tak ada satu pun kata yang terucap. Dalam diam seolah menyaksikannya sedang berjalan di bawah guyuran hujan. Ada banyak cerita yang hujan menjadi bagian di dalamnya. Cerita yang serasa baru kemarin terjadi. Sangat mengherankan aku mau menceritakannya... Entahlah...

Biasa saja melihatnya bercanda dan  melucu dengan lawakannya bersama teman-teman. Berdiskusi yang terkadang saling mengejek yang pada dasarnya akulah yang paling sering di bully. Yah, aku tak pandai berdebat. Tapi, hal itulah yang membuatku sering tersenyum. Bahagia itu sederhana. Menemukan dan belajar banyak hal baru. Semuanya sederhana.

Mengenalnya adalah sebuah fase baru dalam hidupku. Benteng jarak yang ku bangun tak ku sadari telah runtuh. Berawal dari hal yang biasa dan sederhana membuat perlahan perasaan itu muncul dengan sendirinya. Merasa bahagia, sederhana saja.

Dia terlihat bahagia dan biasa saja di luar tapi ternyata tak sesederhana itu. Aku bersyukur bisa melihat sisi dirinya yang lain yang mungkin tak pernah dia tunjukkan pada orang lain. Belajar memahami dan mengerti apa yang dipikirkannya, dan menurutku itu tidak mudah. Salah satu yang ku sukai dari dirinya adalah caranya memandang sesuatu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang walaupun agak ekstrim menurutku ^_^. Impiannya,kesukaannya, ketidaksukaannya, kelucuannya. "Bodoh", itu katanya padaku jika ada sesuatu hal yang ku lakukan yang entah menurutnya itu lucu atau memang keongol-ongolan ku muncul.

Memang, tak selamanya bahagia. Ada saat dimana rasa marah muncul. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali yang entah kenapa walaupun terasa sakit tapi semua itu seolah menguap saat melihatnya. Tak bisa membencinya. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan tentangnya tapi menurutku begini sudah cukup.

Salam.

Jumat, 13 Februari 2015

KUTTUUUUUUU!!!!

Apa namanya kuttu? bukan kutu di kepala. Katanya sih artinya malas. Itulah yang terjadi pada saya beberapa hari terakhir. Tak boleh dipelihara, jangan dipelihara. Saya sepertinya keenakan, haha...
Saking keenakan, saya tak menulis selama dua minggu mengerjakan proyek menulis saya. Alhasil, tulisan terbengkalai. Ngek, karena saya sangat pelupa kekhawatiran yang terbesar adalah ide yang ada di kepala akan segera menguap jika tak segera dituangkan. terkadang plin plan menentukan jalan cerita yang sudah tersusun di dalam kepala. 
Ada beberapa proyek yang menunggu untuk direalisasikan tapi masih tak berani untuk menceritakannya di sini, takutnya tak terealisasi. Yah, terkadang ada benarnya buku "Simple Thinking Of Blood Type", golongan darah B sangat buruk dalam merencanakan sesuatu. Ckckckc...
Yah, dalam beberapa hari ke depan saya akan sibuk mengurus ini dan itu. Saya mau balik ke kampuang halaman nun jauh di mato. Kali ini pulang kampuang yang tak tahu apakah saya akan selamanya menetap di sana ataukah akan melanglang buana ke mana-mana...
Ini artinya jika saya kembali ke kampuang saya bukan lagi masuk dalam Gyerz Makassar, tapi berubah menjadi Gyerz Banggai Laut ^_^
Saat menulis postingan ini saya lagi antri mau mandi sama Mumun. Ternyata mandinya lebih lama dari pada saya. Dia ngapain saja di kamar mandi, emang cowok luluran yah?

So See U next time....

Selasa, 27 Januari 2015

Liebster Award Dari Latifah



Saat hendak mengecek komen tulisan di blog, ada seorang gadis berjilbab yang komen mau ngasih award katanya. Award itu adalah Liebster award, tujuan dari award ini adalah silaturahmi, lebih saling mengenal  teman sesama bloger, dan pastinya dapat fakta-fakta menarik tentang mereka.Terima kasih untuk Latifah yang sudah membagikan awardnya pada saya ^_^

Caranya untuk dapat award ini adalah pertama, ucapan terima kasih pada si Pemberi award, sekali lagi thanks Latifah ^_^. Kedua, mendeskripsikan 11 hal tentang diri. Ketiga, menjawab pertanyaan yang diberikan oleh si pemberi award. Ke empat, memilih 11 blogger yang ingin diberikan award ini dan memberikan 11 pertanyaan pada mereka untuk di jawab. So, GAMPANG KAN?

Kamis, 22 Januari 2015

Legalisir Rp. 5.000



Setelah wisuda, hal lain harus dipenuhi. Tak bisa selamanya bergantung pada orang tua. Tipe-tipe mahasiswa sekarang dalam hal kemandirian dalam mengurus dirnya sendiri itu hanya 2 tipe. Tipe pertama, mandiri dalam membiayai hidupnya tanpa harus sering bergantung pada uang orang tua. Tipe kedua, sepenuhnya dibiayai oleh orang tua.
Belum lama ini saya mengurus legalisir ijazah bersama salah seorang teman saya dan yang membuat saya kaget setengah mati adalah legalisir ijazah ataupun transkrip nilai dikenakan biaya Rp. 5000/lembar. Berikut percakapan sigkatnya di bawah ini.
Teman: “Sudah mi ko legalisir ijazahmu?
Saya : “Belum pi, lupa ka kalau harus legalisir ijazah”.
Teman: “Ayok mi, sama ki pade pergi legalisir. Mandi mo ko supaya sama ki pergi ke BNI membayar”.
Saya : “Oke deh, pergi ka mandi dulu. Apa mau dibayar?
Teman: “Legalisir ijazah toh?...
Saya : ”Membayar kalo legalisir ijazah?
Teman: “iyo, harus ki bayar. Nda ko tau kah kalo harus ki bayar orang? Lima ribu satu lembar”.
Saya : “Iya. Baru ka tau ini. Hahahahha….shock ka dengar. Serius ko harus ki bayar?
Teman: “Iya, nda percayanya ini…Pergi mo ko mandi”.
 Begitulah percakapan singkat saya dengan salah seorang teman saya. sepanjang perjalanan ke BNI saya tidak habis pikir. Lucu dan tak percaya… entah sejak kapan peraturan itu dibuat dan dijalankan. Tapi, silahkan di hitung-hitung berapa banyak yang didapatkan dari biaya legalisir tersebut. Perhitungan dimulai. Menurut perhitungan saya, setiap mahasiswa minimal melakukan legalisir ijazah dan transkrip nilai masing-masing 5 lembar. Legalisir dikenakan biaya Rp. 5000/lembar maka Rp. 5000x5= Rp. 25.000 x 2 = Rp. 100.000
Saya tidak pintar dalam matematika tapi minimal saya tahu lah.hahaha…  kita bisa langsung tahu berapa banyak yang masuk. Belum lagi alumni sebuah kampus dalam sekali wisuda itu jumlahnya ratusan bahkan mencapai ribuan. Saya tahu tanda tangan itu mahal apalagi tanda tangan orang penting. Bahkan, ada yang sampai membingkai tanda tangan untuk dipajang dan untuk dipamerkan. Saya tidak keberatan dikenakan biaya tapi dengan syarat dana yang masuk setidaknya ditransparansikan. Tidak lari buta dana tersebut tak tau kemana rimbanya. Ternyata biaya legalisir sudah lama diterapkan tapi yang saya herankan entah kemana uang itu dilampiaskan. Terutama di fakultas saya yang….hiikkss. Tak perlu disembunyikan, banyak fasilitas yang tak bisa dipakai alias rusak. Hanya menjadi pajangan dalam ruang kuliah dan lama dibiarkan seperti itu, tak diperhatikan. Mungkin demo dan suara kritikan hanya dimasukkan dalam agenda rapat, dirapatkan tapi masih belum tahu kapan realisasinya. Apakah saya terlalu naïf?
Bagaimana dengan kampus kalian?